Masalah Kependudukan dan Implikasinya Terhadap Lingkungan

Masalah kependudukan merupakan masalah yang tidak habis – habisnya. Semakin lama, penduduk semakin meningkat jumlahnya. Menurut Thomas Robert Malthus pertambahan jumlah penduduk adalah seperti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, …), sedangkan pertambahan jumlah produksi makanan adalah bagaikan deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, …)[1].  Pertambahan penduduk pada suatu negara akan membawa perubahan berbagai aspek pada negara tersebut. Hal tersebut merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam suatu negara. Pemerintah harus bisa mencari solusi yang tepat untuk menekan jumlah penduduj yang semakin lama semakin tidak terkendali.

Selama ini, masalah kependudukan boleh dikatakan masih kurang mendapat perhatian dari masyarakat maupun tokoh-tokoh masyarakat. Baik itu dari para politisi, tokoh agama, pakar ekonomi maupun tokoh masyarakat lainnya. Memang pada saat ini sebagian besar orang pada umumnya sudah tidak berkeberatan lagi dengan program untuk mengon¬trol kelahiran, tetapi sayangnya masih kurang sekali kesadaran untuk melaksanakannya. Padahal, kalau disadari, sebenarnya masalah kependudukan ini adalah masalah yang teramat penting. Dan sebenarnya berkaitan erat dengan masalah ekonomi, hukum dan norma agama. Jadi, masalah ini memang tidak bisa dianggap enteng.

Berikut tabel tentang jumlah penduduk Indonesia.

Provinsi
Province
Tahun – Year
1971 1980 1990 1995 2000 2005
Indonesia 119,208,229 147,490,298 179,378,946 194,754,808 205,132,458 218,868,791
  1. Nanggroe Aceh Darussalam
2,008,595 2,611,271 3,416,156 3,847,583 3,929,234 4,031,589
  1. Sumatera Utara
6,621,831 8,360,894 10,256,027 11,114,667 11,642,488 12,450,911
  1. Sumatera Barat
2,793,196 3,406,816 4,000,207 4,323,170 4,248,515 4,566,126
  1. Riau
1,641,545 2,168,535 3,303,976 3,900,534 3,907,763 4,579,219
  1. Jambi
1,006,084 1,445,994 2,020,568 2,369,959 2,407,166 2,635,968
  1. Sumatera Selatan
3,440,573 4,629,801 6,313,074 7,207,545 6,210,800 6,782,339
  1. Bengkulu
519,316 768,064 1,179,122 1,409,117 1,455,500 1,549,273
  1. Lampung
2,777,008 4,624,785 6,017,573 6,657,759 6,730,751 7,116,177
  1. Kep. Bangka Belitung
na na na na 899,968 1,043,456
10.  Kepulauan Riau na na na na 1,040,207 1,274,848
11.  DKI Jakarta 4,579,303 6,503,449 8,259,266 9,112,652 8,361,079 8,860,381
12.  Jawa Barat 21,623,529 27,453,525 35,384,352 39,206,787 35,724,093 38,965,440
13.  Jawa Tengah 21,877,136 25,372,889 28,520,643 29,653,266 31,223,258 31,977,968
14.  DI Yogyakarta 2,489,360 2,750,813 2,913,054 2,916,779 3,121,045 3,343,651
15.  Jawa Timur 25,516,999 29,188,852 32,503,991 33,844,002 34,765,993 36,294,280
16.  Banten na na na na 8,098,277 9,028,816
17.  Bali 2,120,322 2,469,930 2,777,811 2,895,649 3,150,057 3,383,572
18.  Nusa Tenggara Barat 2,203,465 2,724,664 3,369,649 3,645,713 4,008,601 4,184,411
19.  Nusa Tenggara Timur 2,295,287 2,737,166 3,268,644 3,577,472 3,823,154 4,260,294
20.  Kalimantan Barat 2,019,936 2,486,068 3,229,153 3,635,730 4,016,353 4,052,345
21.  Kalimantan Tengah 701,936 954,353 1,396,486 1,627,453 1,855,473 1,914,900
22.  Kalimantan Selatan 1,699,105 2,064,649 2,597,572 2,893,477 2,984,026 3,281,993
23.  Kalimantan Timur 733,797 1,218,016 1,876,663 2,314,183 2,451,895 2,848,798
24.  Sulawesi Utara 1,718,543 2,115,384 2,478,119 2,649,093 2,000,872 2,128,780
25.  Sulawesi Tengah 913,662 1,289,635 1,711,327 1,938,071 2,175,993 2,294,841
26.  Sulawesi Selatan 5,180,576 6,062,212 6,981,646 7,558,368 7,159,170 7,509,704
27.  Sulawesi Tenggara 714,120 942,302 1,349,619 1,586,917 1,820,379 1,963,025
28.  Gorontalo na na na na 833,496 922,176
29.  Sulawesi Barat na na na na 891,618 969,429
30.  Maluku 1,089,565 1,411,006 1,857,790 2,086,516 1,166,300 1,251,539
31.  Maluku Utara na na na na 815,101 884,142
32.  Irian Jaya Barat na na na na 529,689 643,012
33.  Papua 923,440 1,173,875 1,648,708 1,942,627 1,684,144 1,875,388

Data tentang kepadatan penduduk di Indonesia.

Provinsi Tahun – Year
Province 1971 1980 1990 2000 2005
Indonesia 62 78 95 108 116
  1. Nanggroe Aceh Darussalam
36 50 66 76 78
  1. Sumatera Utara
93 114 139 158 169
  1. Sumatera Barat
56 79 93 99 106
  1. Riau
17 23 35 52 62
  1. Jambi
22 27 38 45 49
  1. Sumatera Selatan
33 50 68 67 73
  1. Bengkulu
24 39 60 74 78
  1. Lampung
83 131 170 191 201
  1. Kep. Bangka Belitung
na na na 56 65
  1. Kepulauan Riau
na na na na Na
  1. DKI Jakarta
7,762 9,794 12,439 12,592 13,344
  1. Jawa Barat
467 794 1,023 1,033 1,126
  1. Jawa Tengah
640 780 876 959 982
  1. DI Yogyakarta
785 863 914 980 1,049
  1. Jawa Timur
532 609 678 726 757
  1. Banten
na na na 936 1,044
  1. Bali
381 438 493 559 601
  1. Nusa Tenggara Barat
109 135 167 199 208
  1. Nusa Tenggara Timur
48 58 69 83 90
  1. Kalimantan Barat
14 17 22 27 28
  1. Kalimantan Tengah
5 6 9 12 12
  1. Kalimantan Selatan
45 47 60 69 75
  1. Kalimantan Timur
4 5 8 11 12
  1. Sulawesi Utara
90 139 162 132 139
  1. Sulawesi Tengah
13 20 27 35 36
  1. Sulawesi Selatan
71 97 112 129 136
  1. Sulawesi Tenggara
26 25 35 48 51
  1. Gorontalo
na na na 68 75
  1. Sulawesi Barat
na na na na Na
  1. Maluku
15 30 40 26 27
  1. Maluku Utara
na na na 25 29
  1. Irian Jaya Barat
na na na na Na
  1. Papua
2 3 5 6 7

Sumber / Source : Sensus Penduduk (1971, 1980, 1990, 2000) dan Supas 2005

Salah satu masalah yang berimplikasi langsung dengan pertambahan penduduk merupakan masalah limgkungan hidup. Bertambahnya jumlah manusia di dunia, berarti  manusia membutuhkan lebih banyak tempat untuk hidup, maka lahan – lahan yang ada di bumi semakin sempit karena adanya pembangunan banyak pemukiman untuk tempat hidup. Selain itu, masalah pencemaran pada lingkungan juga merupakan dampak yang sangat terlihat. Mulai dari pencemaran air, udara, dan juga polusi suara.

Dengan besarnya jumlah penduduk di Indonesia, maka pastilah hal tersebut menimbulkan berbagai masalah di dalam aspek lingkungan.  Berbagai pencemaran terjadi di daerah – daerah yang berpenduduk padat. Dalam hal ini dapat diambil contoh ibu kota negara kita, Jakarta. Jakarta merupakan kota metropolitan yang hidup 24 jam, 7 hari seminggu. Dengan jumlah penduduk  8,860,381 dan kepadatan penduduk  13,344 per KM2, Jakarta merupakan daerah yang terpadat di Indonesia. Terjadi peningkatan jumlah penduduk yakni 752 orang dalam kurun waktu 5 tahun di setiap km2-nya.

Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Hal  ini dikarenakan semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi pula tingkat perminataan terhadap lahan. Kemudian jika lahan yang tersedia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan penduduk, berbagai respon akan muncul. Di antaranya membuka hutan, menanami daerah rawan atau mencoba mengadu untung ke kota. Respon yang disebut pertama dan kedua adalah apa yang dinamakan keadaan lapar lahan.[2]

Dalam kasus Jakarta, pertumbuhan yang terjadi lebih banyak diakibatkan karena perpindahan penduduk dari desa ke kota yang bertujuan untuk mengadu nasib. Mereka berharap ibu kota bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Akan tetapi, banyak dari para urban yang tidak mempunyai soft skill yang bisa digunakan untuk bekerja. Akibatnya timbullah pengangguran yang semakin tahun smakin meningkat. Kehiidupan yang tidak layak seperti di tempat – tempat kumuh banyak bermunculan, di kolong – kolong jembatan told dan juga tuna wisma.

Dalam aspek lingkungan, di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Pencemaran lingkungan sudah menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Misalnya pencemaran udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Penggunaan kendaraan bermotor dengan jumlah yang tinggi menyebabkan tingginya gas karbon monooksida yang mencemarkan udara. Belum lagi masalah yang dimbulkan oleh limbah – limbah yang bisa mencemari tanah. Bukan hanya limbah pabrik saja, akan tetapi jumlah limbah rumah tangga juga tidak kalah jumlahnya. Setiap hari dengan jumlah yang besar sekali limbah  dikeluarkan oleh rumah tangga. Kemudian masalah yang ditimbulkan oleh sampah, yang setiap hari menumpuk dan tidak mudah juga dalam penyelesaiannya.

Masalah – masalah yang terjadi akibat kapadatan penduduk merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Pemerintah harus membuat regulasi – regulasi yang dapat menekan angka pertumbuhan penduduk di Indonesia. Berbagai dampak timbul akibat meledaknya jumlah penduduk. Dengan terbatasnya daya dukung lingkungan, apabila jumlah penduduk tidak bisa ditekan, maka lingkungan tidak akan bisa menopang kehidupan manusia di bumi ini dengan layak.

Sumber :

Hadi, Sudharto P. 2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

http://sumbermakalah.blogspot.com/2008/12/tentang-masalah-kependudukan.html

http://irshadi-bagas-home.blogspot.com/


[1] http://irshadi-bagas-home.blogspot.com/

[2] Sudharto P. Hadi, Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan, Yogyakarta, 2005, hal. 12

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: